BITUNG-TUBERSMEDIA.COM Janji menggelar nonton bareng Piala Dunia 2026 di Pasar Cita Kota Bitung yang disampaikan Sekretaris DPD NasDem setempat, kini dinilai sebagai kebohongan. Alih-alih dilaksanakan di dalam pasar untuk menggerakkan usaha warga, kegiatan itu dipindahkan ke Jalan Umum, memicu kekecewaan pelaku UMKM yang ramai dibahas di media sosial.Sabtu (13/06/26
Seperti dalam pemberitaan disebuah laman berita daring lokal sebelumnya Sekretaris DPD Partai NasDem Kota Bitung sekaligus Anggota DPRD Kota Bitung, Haji Ramlan Ifran atau akrab disapa Haji Olan, telah menyampaikan rencana menggelar kegiatan nonton bareng (nobar) Piala Dunia 2026. Ia menegaskan kegiatan ini disiapkan untuk memberikan manfaat langsung bagi warga sekaligus menggerakkan perekonomian lokal.
“Dengan nobar ini, kami berharap bisa menarik pengunjung ke Pasar Cita. Saya optimistis pelaku UMKM di dalam pasar bisa merasakan dampak positifnya, usahanya makin laris dan berkembang,” ujarnya, dikutip dari laman berita daring tbn. Pernyataan ini disambut antusias para pedagang yang menaruh harapan besar agar kegiatan itu menghidupkan kembali aktivitas perdagangan di pasar.
Namun kenyataan di lapangan berbanding terbalik dengan janji yang disampaikan. Kegiatan nobar yang dipublikasikan sebagai upaya mendukung geliat ekonomi pedagang pasar justru dilaksanakan dan memakai jalan umum. Videotron yang sebelumnya dijanjikan sebagai fasilitas utama penayangan pertandingan pun tidak terpasang di area pasar. Akibatnya, manfaat ekonomi yang diharapkan dapat dirasakan langsung oleh para pedagang tidak terwujud sama sekali.
Keluhan pedagang kemudian ramai diperbincangkan di media sosial. Sejumlah netizen menilai pelaksanaan kegiatan di luar Pasar Cita bertolak belakang dengan tujuan awal yang dipublikasikan sebagai bentuk dukungan terhadap UMKM pasar. Bahkan muncul berbagai komentar yang mempertanyakan komitmen terhadap pemberdayaan pedagang yang selama ini diarahkan untuk berjualan di dalam Pasar Cita.
Salah satu warganet mengungkapkan rasa heran sekaligus kekecewaannya, “heran le ini partai pemerintah, dimuka rudis dilarang karena kalan itu UMKM dgn Nobar, skrg kase ijin dijalanan muka sekolah SD. stenga mati percaya janji politik kang….UMKM kecewa”.
Ada juga tanggapan lain yang menyindir situasi tersebut, “So sama dg lagu lh dorang ini alamat palsu”, disusul komentar singkat yang menggambarkan keraguan mendalam, “Mo percaya leh qwa. Hmmmmppp”.
“UMKM kecewa. Janji mo bekeng di Pasar Cita, ternyata nobar digelar di luar pasar”, tulis salah satu netizen dalam unggahan yang beredar luas.
Para pedagang kini berharap ada penjelasan resmi dari pihak terkait mengenai perbedaan informasi yang disampaikan sebelumnya dengan pelaksanaan di lapangan. Mereka menilai program yang mengatasnamakan dukungan terhadap UMKM seharusnya memberikan manfaat nyata bagi pedagang yang setiap hari berusaha menghidupkan aktivitas ekonomi di Pasar Cita.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak penyelenggara maupun instansi terkait mengenai alasan kegiatan nobar dipindahkan ke luar kawasan Pasar Cita dan belum terealisasinya pemasangan videotron yang dijanjikan.
Kondisi ini pun menjadi sorotan publik, memunculkan pertanyaan mendasar di kalangan pedagang: jika tujuan awalnya untuk menghidupkan UMKM Pasar Cita, mengapa kegiatan yang dijanjikan justru tidak dilaksanakan di tempat yang seharusnya?
(Red)
