Louis Carl Schramm, SH, MH, Ketua Fraksi Partai Gerindra DPRD Sulut, bersama sejumlah legislator lintas partai memilih untuk duduk bersila bersama massa aksi
TUBERSMEDIA.COM – Suasana di Gedung DPRD Provinsi Sulawesi Utara pada Selasa siang sempat memanas ketika ratusan mahasiswa bersama berbagai elemen masyarakat menyuarakan aspirasi mereka.
Aksi yang berlangsung itu menyoroti sejumlah tuntutan publik yang dianggap perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah maupun pusat.
Namun, ketegangan yang sempat terlihat berubah menjadi ruang dialog ketika beberapa anggota DPRD Sulut turun langsung menemui para pengunjuk rasa. Salah satunya adalah Louis Carl Schramm, SH, MH, Ketua Fraksi Partai Gerindra DPRD Sulut, yang bersama sejumlah legislator lintas partai memilih untuk duduk bersila bersama massa aksi.
“Saya hadir bukan sekadar sebagai wakil rakyat, tapi sebagai pendengar dan penyambung suara masyarakat. Apa yang menjadi tuntutan hari ini akan kami salurkan ke pusat,” tegas Louis di hadapan mahasiswa.
Langkah sederhana namun penuh makna itu mendapat respons positif dari massa aksi. Bagi banyak peserta, kehadiran wakil rakyat yang berbaur tanpa jarak menandai adanya kesediaan untuk mendengar suara rakyat secara langsung. Louis juga menekankan pentingnya komunikasi yang sehat antara masyarakat dan parlemen.
“Gerindra Sulut tidak anti-kritik. Justru kami ingin tumbuh bersama rakyat, mendengar, dan merespons secara nyata,” tambahnya.
Dalam kesempatan itu, politisi yang akrab disapa Lucky ini juga menyampaikan terima kasih kepada massa aksi yang telah menjaga ketertiban selama penyampaian aspirasi. “Terima kasih sudah tetap kondusif. Aksi ini menunjukkan kedewasaan berdemokrasi yang patut kita apresiasi,” ujarnya.
Aksi tersebut berlangsung tertib tanpa gesekan. Mahasiswa menyampaikan berbagai tuntutan, mulai dari transparansi kebijakan, penguatan pengawasan terhadap pungutan liar, hingga pentingnya memperhatikan kesejahteraan masyarakat kecil.
Dialog terbuka yang tercipta itu memberi gambaran bahwa jalur komunikasi publik masih bisa dijaga dengan pendekatan persuasif. Ketika wakil rakyat memilih untuk membuka diri, aksi demonstrasi dapat menjadi ruang edukasi politik yang sehat, bukan sekadar ajang konfrontasi.
Kehadiran legislator di tengah massa aksi juga memperlihatkan bagaimana DPRD Sulut, sebagai lembaga perwakilan, bisa membangun jembatan antara kebijakan dan kebutuhan rakyat. Dengan adanya pertemuan langsung, aspirasi mahasiswa dan masyarakat memiliki peluang lebih besar untuk didorong ke meja pembahasan kebijakan di tingkat provinsi maupun pusat.
